|
Bayangkan
seandainya sebuah jemaat keadaannya sbb.:
Para
anggota saling menuduh di depan pengadilan. Yang lain terbiasa
mengikuti perjamuan guna menghormati dewa-dewa asing, yang
hanya sekadar berhala-berhala. Seorang anggota dengan terang
hidup dalam percabulan — dan jemaat membiarkannya. Yang lain
berpikir bahwa lebih baik bagi pasangan-pasangan Kristen untuk
bercerai supaya mereka dapat lebih “suci”.
Kebaktian-kebaktian sama sekali tidak meneguhkan iman.
Orang-orang yang berbicara dengan karunia lidah tidak tahu
menahan diri. Orang datang dalam keadaan mabuk untuk ikut
Perjamuan Tuhan, dan di tempat itu mereka duduk berkelompok
kelompok — masing-masing membualkan pengkhotbah kesayangannya.
Para pengunjung memperoleh kesan bahwa mereka itu gila.
Sebagian
meragukan Kebangkitan. Dan banyak yang tidak memenuhi janji
untuk memberi bantuan uang. Apakah ada jemaat semacam itu?
Ada! Apa lagi, pendiri dan gembala sidangnya selama satu
setengah tahun adalah rasul Paulus!
Dalam
pelajaran-pelajaran ini kita menyelidiki dua surat pribadi
yang dikirim kepada jemaat ini oleh gembala sidangnya. Pertama
Korintus menggambarkan persoalan-persoalan jemaat itu. Kedua
Korintus menyatakan isi hati gembala sidangnya.
Kedua
surat itu menunjukkan kasih karunia Allah yang sedang bekerja
— dalam jemaat itu maupun melalui Pendetanya. Kasih karunia
yang sama itu sedang bekerja dewasa ini, dalam jemaat saudara
dan melalui pendeta saudara. |