|
“Seratus dua ratus, tiga ratus,
empat ratus lima puluh. Jadi seluruhnya. . “gumam perlahan
seorang gadis kurus kecil. Tangannya cekatan sekali
menyisihkan uang recehan yang tersusun rapi di atas meja.
Mulutnya komat-kamit menghitung kembali. “Jadi seluruhnya
empat belas ribu empat ratus lima puluh rupiah.” Kemudian ia
menengok ke buku catatan kecil yang ada di depannya. “Cocok,”
serunya gembira.
Wajahnya berseri memandangi
orang-orang yang ada di sekelilingńya.
“Pak, Bu, tabunganku hampir
mencapai lima belas ribu rupiah. Banyak bukan?”
Bapanya menengok dan kerjanya
membetulkan sandaran kursi yang sedang diperbaikinya.
“Banyak betul, Sarinah. Lalu
uang itu untuk apa?”
“Ah, Bapak, seperti tidak
mengerti saja. Sari ingin membeli sebuah sepeda,” kata Ibu
tertawa.
“Tetapi harga sepeda mahal,
Nak,” sambung Bapak perlahan.
“Sari tidak perlu
sepeda yang bagus, Pak. Cukup sebuah sepeda yang bisa
kupergunakan untuk ke sekolah bersama Darmo.” Darmo yang saat
itu sedang menggulung benang layangan mengangguk.
“Ya, Darmo juga
bisa memakainya untuk mengejar layang-layang “Ah,. . . |